Jumat, 15 Oktober 2010

here i come !

abis UTS [Ulangan Tengah Semester]. fiuuh leganya. ga asik sih kemaren sial banget. udah telat dimarahin pulak. ga keren blas. oke stop curcolnya. sekarang aku lagi sibuk dengan, gotta feeling to be amateur cerpenist(?) make a wish(!) hahaha

abis sebulan ini duit AMBLAS(!) bikeees ada pameran buku gitu. semacam pasar buku rakyat coy(!) jadi kemana mana nenteng buku. bawaannya pengen beli buku teros! haha. bocoran dari mbak mbak karyawan gramedia sih, bulan desember bakalan ada bursa buku murahmeriah. wehehehe berguna juga sksd sama karyawan gramedia, #nyiahaha

btw, kemaren aku berangkat naek supra. supra item. dan jatoh. gedubrakan. kopling ga bisa balikin, masih rada haho gitu. mamong abis. ga keren lah intinya. 

akhirnya balik juga dengan beat matic kesayanganku ahahaha


kayanya aku suda waktunya sekola deh. argh, males.

Rabu, 13 Oktober 2010

Dia dan Gitar Lamaku (Part IV)

---------- Agni side---------------

                        kakiku pegal. ya. kakiku linu. catat.sekarang aku berada di dalam bus kota. pengap. capai. lelah. aku menoleh. aiish adik laki laki itu sedang mencoba mencopet dompet seorang nenek. aku mendengus. Ya Tuhan. seharusnya aku mencegahnya. oh tidak. harus sekarang. tanganku menepis sekaligus menepuk pundak nenek yang terlihat lelah itu. ah sungguh malang kau dik. pasti kau lapar ya? batinku. sampai sampai harus melakukan hal seperti ini. tampaknya anak itu berang. aku bersiap siap untuk mengelak. tapi lagi lagi aku ditolong. Terimakasih Tuhan. Tangan siapakah itu?



              tangan cowok itu. yang selalu kudapati melengos padaku di kuliah semester pertamaku dulu.ya, aku ingat dia. senior yang menduduki jabatan paling garang tapi ganteng. aku yakin dia adalah salah satu mahasiswa senior yang mendapat beasiswa pelajar. aku juga sering melihat wajah dia di mading kampus. tapi hanya sepintas. karenanya aku ingin menegurnya, dengan alasan sepele! gitar yang dibawanya unik. kenapa unik? batiknya itu, unique and different.


                    dia menegur bocah cilik pencopet itu. aku langsung tanggap dan memberi pengertian nenek. nampaknya sang nenek kasihan dengan bocah cilik itu. walaupun sempat terlihat kesal, sang nenek langsung merogoh sakunya dan memberi uang kertas beberapa lembar. serta merta bocah cilik itu malu. dan tentunya senior cowok itu menyuruh bocah cilik itu meminta maaf. baru kali ini pengalamanku melihat calon korban pencopetan mengajak ngobrol dan berkenalan pada pelaku pencopetan. terkadang dunia terasa tak adil, tapi jika orang orang di dunia masih berkasih sayang pasti terasa berbeda. seperti hari ini. 


              cowok itu kembali ke rutinitasnya. setelah tersenyum tipis pada nenek dan aku, ia terpaku kembali ke depan. untung bocah itu tidak digebuki orang di dalam bus. Alhamdulilah. aku mengernyit.ini kesempatanku untuk menyapanya. harus!


-bersambung-

Selasa, 12 Oktober 2010

Dia dan Gitar Lamaku (Part III)

Hidupku memang berantakan. tapi pikiranku tak seberantakan itu. Aku celingukan mencari keberadaan Kimo. aku tidak marah padanya. mungkin emaknya atau adiknya sedang kesulitan. jadi ia terpaksa melakukan perbuatan tadi. sungguh anak yang malang.


Kimo terlihat pasrah ketika aku menemukannya. aku hanya tersenyum. "sudah kau jual gitar itu, mo?" yang terdengar hanya sahutan bang jipang, "sudah ke gue nih. duitnya gue kasihin loe langsung aje ye!" bang jipang menyodori aku sejumlah uang. aku menggeleng. "bang, ane nggak jadi jual. maaf ya bang." raut wajah bang jipang mengerut. lalu beralih menghardik si Kimo. "ah pasti ini akal akalan lo ya mo! kasihan tuh mas kiki, gitar satu satunye malah lo sabet. dasar kriminil cilik!" aku menghela. resiko kimo. aku tidak bisa membelanya karena itu adalah kenyataan yang sebenarnya. dunia memang terkadang tidak adil.


"mo, lu butuh duit berapa sih? buat apa lagi pake kayak ginian? ngomong kan bisa."
"tapi bang, ini ...."
"mendesak?" jiwaku trenyuh melihat muka kimo yang memelas.
"gini lo bang...."
akhirnya kimo menceritakan asal mula ia ingin menjual gitarku. ternyata dia ingin membayari biaya puskemas untuk kesehatan ibunya sehabis melahirkan. pendarahan yang hebat telah mendera ibunya beberapa hari ini. aku terdiam. "lu punya askes nggak mo?"
"askes itu apa sih bang? mahal nggak sih?"
aku meringis. anak jaman sekarang apalagi tipe kimo memang belum berfikir panjang. sampai kapan generasi penerus di Indonesia seperti ini? batinku.


--------------......---------------



andai saja aku masih kuliah. andai saja kesempatan masih ada. yah takdir pasti mengantar kepada hal yang seharusnya. cukup kusyukuri itu.




Ditengah kemelut pikiranku menjadi satu, aku memilih untuk pulang ke bilikku. kubawa buku pemberian Agni. kubuka lembarannya satu persatu. karya yang sangat menusuk. mendalam. bahasa yang berat. tapi cukup bisa dimengerti. kebanyakan bertopik tentang kecewa. penyesalan akan waktu. dan Generasi Indonesia. aku salut padanya. Tidak salah penilaianku yang pertama saat mataku melihat Agni menolong nenek yang akan menjadi korban pencopetan. tangannya sigap menahan pelaku. beruntung aku ada disebelahnya. dan pencopet itu sendiri adalah kawan cilikku yang kemarin kehilangan ibu kandung kesayangannya. Kimo.


-Bersambung-


Senin, 11 Oktober 2010

Dia dan Gitar Lamaku (Part II)

Kubuka buku itu dengan seksama. Judulnya terlihat berat dan sendu. "Menggapai Bintang tak semudah mengedipkan mata." aku menghela. kumpulan karya sastra dari seorang gadis yang belum kukenal tetapi terasa dekat karena aku mengangguminya. mungkin bisa dibilang "menyukainya". Andaikan gadis itu masih bersamaku di dalam bus ini, aku akan lebih aktif mengajaknya mengobrol. karena hal itu adalah kesempatan satu kali dalam seribu pertemuan di terminal.
Aku membuka lembaran terakhirnya yang bertuliskan, "Every second I breath you saw all about me. " dadaku berdegup. mataku kembali melihat nama pengarang yang tercetak jelas di cover depan. Agni Divawidyasari. Gadis berambut burgundy yang tidak segan naik bus walaupun aku tahu dia pasti bisa naik kendaraan selain bis.
Aku menoleh ketika namaku disebut. keras. "Edoooo!" mataku mencari. Gitarku masih disebelahku. tenang dan diam. "Ada Apa?" sahutku acuh. ternyata Kimo temanku, salah satu pengamen jalanan di daerah terminal. "Lo tau nggak? cewek yang sering lo liatin, ketabrak coy!"
Shock. Yang jelas aku kaget. "Masa sih mo?" wajah kimo masih tetap tegang. aku langsung berlari setelah menanyakan tempat kejadian. gitarku kutitipkan pada kimo. tapi kenyataannya, tidak ada kecelakaan satu pun di daerah Sukasari. Ada Apa ini ?
Sekembalinya aku ke tempat kimo dan gitarku, keduanya tidak ada di tempat. Bahuku ditepuk seseorang, "Gitar lo, kok dijual sama ane sih?" ternyata Faisol. "Nggak gue jual, si Kimo tuh!Gila tuh anak, tu gitar kesayangan gue!" Faisol menggumam. "Lu juga sih tahu si Kimo itu kriminil, percaya aje." aku menghentakkan kaki. "Ane kira, dia nggak akan temen makan temen." Faisol malah tertawa.


-Bersambung-

Dia dan Gitar Lamaku

Matanya mengerjap. Mungkin gadis cantik itu akan segera pergi. Tampaknya betul. Kakinya yang jenjang tengah berlari di kerumunan manusia yang berada di terminal Sukasari.


Gadis cantik berambut burgundy. Aku selalu memandanginya setiap pagi. Gitar Tuaku masih setia menemaniku untuk mencari nafkah bersama teman teman seperjuanganku. Tak lupa kucari gadis itu tiap hari. Hanya untuk menambah semangat diri. Tak ayal mataku sempat bersirobok dengan mata jernih itu. Sayangnya, reflek aku segera berpaling karena aku malu. Aku tahu betapa berbedanya aku dengan dirinya.

"Gitar Lama ya?" nada yang meluncur terdengar santai. aku kaget. Penasaran aku spontan menoleh dengan cepat. kujawab dengan singkat, "Ya, sudah sejak dulu sepertinya." Gadis Cantik yang setiap pagi ku cari, sekarang malah menegurku terlebih dahulu! " Hmm, gue mau dengerin satu lagu dong. Bayar pake ini mau enggak?" Gadis itu malah menyodorkan buku plus permen karamel. Wajahnya yang mempesona mengeluarkan seribu kali lipat kecantikannya. aku tersenyum. lebih tepatnya menyeringai lebar. "Gratis." Tanganku mulai beraksi. Lagu Gubahan Greenday Kesukaanku sejak aku berhenti kuliah kunyanyikan dengan lancar. Aku lega melihat senyumnya mengembang. "Lagu Kesukaan kita setipe nih. Thanks Terhibur banget lho! Ini deh gue kasih gratis!" Dia masih tetap ngotot menyodorkan Buku dan Permen Karamel. sempat dia berbisik di telingaku sebelum keluar bus. "Buku Buatan Gue sendiri Lhoo!" dia tersenyum jahil dan melambaikan tangannya ketika hendak memasuki gedung. Aku terpaku. Hari ini sangat menyenangkan.


- Bersambung-



Rabu, 29 September 2010

About @IICHARTZ photoworks


[ Childs Moment ]
Talent : Annisa Aulia (12)
Gear : c73




Talent : Annisa Aulia



[ Just Announcement ]
Lokasi : Botanical Garden, Jember Jatim
Talent : Annisa Aulia (12)
Gear : C73



[ Natural ]
Lokasi : Universitas Jember
Talent : Nabila Nur (14)
Gear : c73



Comfort. Think Back. Memories. :)

Minggu, 26 September 2010

Hobby yang Teroendam


hey comebek with me. as usual sekarang lagi keranjingan dengan photography, btw sekarang juga masih asyik berkawan dengan photoshop cs4. siapa yang punya photoshop cs5, angkat jari dong, ane mupeng. tapi pengennya yang gratisan aja, wekekek



ah ini foto akuu dengan sodara di kebun ptpn 12, cantiik kan ? gearnya pakai hape 2MP Sony Ericsson :) gimana enggak cantik siih namanya juga cewe :p eh ya ini cuma soft tone plus brush swirl or floral , next --




effect SOFTTONE ini dijepret di rembangan. adem banget bos. modelnya cantik kan ? ehehe masi sodaraan juga, silakan menikmati :)






Ini photoworks di pantai papuma. lokalan aja sih masih kawasan jember dan sekitarnya. mumpung hari libur ngabisin waktu sambil hunting foto bareng model cilik, not bad ..


abis blogwalking kmren dapet kata* yang dalem :

Great photography is not depend on the gear, but depend on the man behind the "GUN" (kamera).