Tampilkan postingan dengan label Cerpen Coretan Asal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Coretan Asal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2012

K-inoy

Kinoy, Aku sayang kamu. Kamu sayang aku? Maaf aku tak tahu, rasa ini akan terus berlanjut atau tidak. Yang jelas, pilihanmu untuk meninggalkan 'kita' bukanlah pilihan yang sulit, sepertinya.


Tertanda , Shin-a.


Flashback
Aku berlari, menderu ke arah ke arah kelasku. Berpapasan denganmu, buatku ragu. Aku tersenyum, dan mengendikkan bahu. "Noy, ada yang suka sama kamu, tuh!" Kamu terbelalak. Serius? Mungkin. "Siapa Na?" Aku tersenyum. Geli. Menunggu responmu. "Aku!" Dan waktupun terus menari bersama hatimu.


Bersambung.

Selasa, 21 Februari 2012

Tanpamu

2012, February Awal...
Hujan lagi. Aku menddngus seorang diri. Baru saja aku melangkahkan kakiku ke Champ Elysee, Aku langsung mengurungkan niatku. Aih, aku sendirian di Paris, Kali ini Tanpamu.


Setahun lalu...

Aku mengiyakan saja, ajakanmu tahun lalu untuk travelling ke negara romantis ini. Bayanganku, kamu mengajakku jalan-jalan ke Eiffel Tower yang tersohor itu. Tapi apa? Kamu malah asyik bersama Monsieur Cha-pelle yang mengajarimu di kursus bahasa Prancis. Kenapa jadi aku yang dikorbankan? Padahal niat awalku, Aku ingin mengelilingi Eiffel sampai berkali-kali dan memasuki Dek observasi. Ah iya.. Aku terpengaruh oleh issue Tom Cruise yang melamar Katie Holmes disana. Jadi malu.


Aku membawa kekasih keduaku kali ini. Dia setia setengah mati bersamaku, detik ini aku merangkulnya, Kameraku! Aku menentengnya dengan kasih sayang untuk mengabadikan semesta buatan manusia yang mengelilingiku saat ini, Arch de Triomphe. Sebenarnya hanya seperti gapura tapi berarsitektur indah nan megah. Kecewa, Aku sendirian di tempat ini. Telepon genggamku berbunyi, Mudah-Mudahan itu kamu...


Another location ..

Aku salah apa? Aku sudah berusaha mengajaknya di sela waktu-ku yang padat. Memang sih aku juga salah tidak bilang bahwa aku ke Paris hanya untuk mengambil les bahasa. Hey! kita bisa bolak-balik kesini kan? Lagipula ayahku masih bercokol dengan bisnisnya disini. Bukannya tak mungkin, aku dan Tabitha kemari lagi? Kenapa dia harus marah?

Aku mengernyit dan mengambil handphoneku. Suara gemerincing dari strap-phone buatan tangan Tabi membuatku tersenyum. "Halo, Bi. Lagi dimana? Nanti jam 10 balik ya. Ke sini. Ya, liat aja di Peta yang aku kasih kemarin. Safety , Inget banyak copet..." Belum aku meneruskan kalimatku aku tersentak mendengar suara Tabi seperti hendak menangis. "Kenapa?" Kemudian terputus.

Itu memang dia. Apa Andrew ingin menyusulku disini? Rasanya tidak. aku menjawab pertanyaannya dengan jawaban sekenanya. "Iya. Hujan disini. Masih di Arch de Triomphe, .. bip." Teleponku kuputus. Aku rasanya sedih sekali mengingat dia tidak di sisiku. Parno banget, batinku sembari menatap layar sentuh handphoneku. Aku mengirim sms singkat, agar Andrew tidak khawatir.

To : Ndrew
From : Tabot

Ndrew, aku lagi di Arch de Triomphe, nggak usah khawatir. I'm in safety. Tommorow, Aku bakalan ngambil touring di Flawtour jadi nggak masalah kan? Semangat ya buat lesnya. :)


Besok bakalan jadi hari yang asyik. Pasti. Aku kembali melangkahkan kakiku menuju Champ Elysee. Let see disana banyak etalase-etalase cantik berisikan barang kesukaan kaum hawa. Tapi kenapa sekarang jadi tidak menarik di mataku ya? mungkin karena aku lelah. aku harus kembali ke kediaman keluarga Andrew sekarang.
Tapi lewat mana tadi ya? Aku kan......... buta arah.

Sudah beberapa jam, Bie belum pulang. Aku melihat jam Wrist kesayanganku, pemberian Tabitha. Bie, dimana kamu?

Akhirnya, Aku menemukan jalan yang aku lalui tadi. Setelah beberapa jam memutari jalan yang sama, Aku bisa kembali ke rumah Andrew dengan selamat, Fiuuh... nafas panjang deh. Aku mendengus, coba Andrew bisa temani aku tiap hari. Nggak bakalan deh nyasar-nyasar. Tapi nggak apa deh, belajar travelling nggak salah juga kaan... 

Aku melihat Andrew yang hendak menaiki mobil pribadinya. Aku melambai-lambai. Mau kemana? Kok nggak nungguin aku? Kulihat binar mata Andrew, dia terlihat tenang melihatku berlari kecil ke arahnya, Tapi...

"Kemana saja kamu Bie?" bentakku dengan keras. Raut mukaku yang sedari tadi kaku mengendor, tapi tetap hatiku masih saja khawatir dengan Tabitha. "Kenapa baru pulang?" aku mengecilkan volume suaraku. Tabitha yang awalnya berdiri tegap, sepertinya lemas.. hey! dia hampir saja terduduk di jalan. Nampaknya dia kecapekan. "Bie, masuk dulu yuk." aku merangkulnya hangat. aku kangen dia. kangen senyumnya walaupun aku dan dia hanya terpisah sehari ini saja. besok aku pasti disisinya.


Tabitha duduk di sampingku dengan diam. aku tahu dia kecewa dengan jadwalku hari ini. "Bie, kamu kenapa.." kata-kataku terputus. Dia mulai bercerita... Tabitha-ku bercerita..

"Kenapa harus bentak-bentak sih?" mulutku manyun. "Tadi aku kesasar, Ndrew. Tapi ajaibnya aku bisa kembali hahaha.." aku tertawa lepas. Aku senang jika bisa ada di sampingnya. Aku sudah bertahun-tahun bersamanya. Aku hafal, sikapnya jika sedang mengkhawatirkanku. Tapi tidak seemosional tadi. Tidak pernah.

Besok bakalan jadi hari milikmu Bie, aku menggulum senyum. "Bie, aku besok free. kita bakalan jalan-jalan lagi." Akhirnya Tabitha tertawa lebih lepas. Ah Tabi, kamu memang..

Aku berlari menuju Efa. Dia tour-guide dari Flaw. Sekaligus aku menggamit lengan Andrew yang nampaknya masih mengantuk. Lucu ya, mungkin dia sudah berkali-kali kesini, tapi kan aku baru kali ini.. Intinya hari ini harus jadi hari yang seru!
Aku melihat keadaan di  Hamburg. Sekali pindah bus di Köln. Aku bingung tapi campur senang. Aku bisa menikmati perjalanan di Bis bersama Andrew. Kali ini dia asyik menjepret sana-sini dengan camera barunya. Termasuk memfoto aku dimana-mana. Tapi aku belum berfoto dengan Andrew, Aku menelisik raut mukanya. Aku memberi kode padanya. Tapi dia tak sadar juga. Biarlah.
Sesampainya di Basilique du Sacré-Cœur, obyek pertama kami, adalah sebuah gereja katolik roma, dan dibangun di abad 19. Awalnya Tabi selalu mengikuti arahan dari tour-guide. dia nampak seperti anak kecil yang sedang diberi permen dan melonjak kegirangan. Aku jadi ikut senang.
Perjalanan kami berlanjut ke arah Moulin Rouge, sebuah red district di Perancis, tak jauh dari Sacre Coeur. Pagi itu, daerah ini masih terlihat sepi. Tak lama kemudian, kami menemukan bangunan dengan kincir berwarna merah, trade mark Moulin Rouge. Moulin Rouge terkenal dengan pertunjukan kabaretnya. Tabi mulai lelah, ia berjalan pelan di sebelahku sambil memakan roti yang tadi dibelinya, sedikit-sedikit.
Ada rahasia yang kusembunyikan dari Tabi. Aku juga tidak tahu, kapan rahasia itu akan terushk. Nampaknya, semesta kali ini membuat Tabi nampak cantik. Aku memandangi-nya dengan rasa kagum. Dia milik Tuhan, tapi Tuhan menitipkan hatinya padaku. Aku takkan bisa memiliki Tabi, Tapi seutuhnya aku milik Tabi. Hatiku.
Waktunya pulang memang sangat menyebalkan. Liburan aku dan Andrew sudah hampir habis. Ayah Andrew juga sudah mempersiapkan ticket kepulangan kami, Andrew melirikku yang sedang kesal. Nampaknya memang aku belum ingin pulang. "Kamu mau disini terus?" goda Andrew.
Sesampainya di Jakarta, Andrew masih getol menggodaku. Aku jadi malu dibuatnya. Tapi senang. Entah mengapa, Pada Bulan January, Aku dan Andrew jadi jarang bertemu. Selain bersekolah di sekolah yang berbeda, Kesibukan Andrew mempersiapkan diri menjadi pengganti pemimpin bisnis kakeknya di Paris juga menyita waktu yang tidak sedikit.
Pagi itu..
To : Bie,/span>
From : You

Bie, lagi dimana? Ayo keluar yuk!

Aku menunggu sekitar sejam-an di Sushi Tei. Makanan kesukaan Andrew. Tapi mana Andrew-nya? Akhirnya aku memilih menulis pesan singkat ke Andrew, aku pulang karena aku masih ada kepentingan lain. Faktanya aku ingin menyusul Andrew di rumahnya. Tapi ketika aku melewati rumah Andrew, Aku bingung. Kenapa, ramai sekali?

Aku melangkahkan kaki, memasuki kediaman rumah Andrew dengan perasaan bingung. Apalagi melihat motor kawasaki ninja, Andrew yang teronggok di halaman. Aku melihat banyak orang yang tergesa-gesa dan memasang tenda. Kenapa?

Aku limbung melihat papan yang bertuliskan, nama kekasihku satu-satunya. Andrew Putra Laksadayana.
Andrew, ku hilang seiring bayangan hitam menyergap pelupuk mataku. 

Flashback

" Bie, kalau kamu hilang lagi aku bakalan bingung mondar-mandir, kalau aku hilang kamu nggak apa-apa kan? Jangan bingung, Jangan nangis. Karena walau kita merasa saling memiliki, Faktanya Tuhan yang sepenuhnya memiliki kita."

Aku tahu, Rahasia Terbesarmu Ndrew. Hatimu milikku. Kamu milik Tuhan..

Kenapa saya menulis ini? Karena semesta dan Tuhan berkerjasama nan apik, menyusun waktu serta pikiran agar tertuang dalam tulisan. Kenapa dengan Paris? Karena saya sama seperti Tabi, anak kecil yang diberi permen akan bersorak kegirangan. Kenapa harus Andrew? Saya.. tidak tahu. Enjoy Reading! :)

Sabtu, 16 Oktober 2010

IBU, aku rindu pelukmu

 Hari Pertama

Kenapa Hari ini aku tertidur di tempat yang asing ibu? Aku kedinginan Ibu.. Kenapa Ibu Menangis?

Suara apa itu ibu? Yang Mengalun Merdu di tempat ini? Setelah suara itu berkumandang, kenapa banyak orang yang datang dan berwajah bak malaikat ke sini Ibu?

Kenapa banyak yang datang padaku Ibu? Ibu malah tidak nampak sama sekali. Aku dibawa ke tempat yang lain, Ibu. Tapi kemanakah sosokmu ibu? Aku Takut. Aku menangis Tanpamu ...



Hari kedua

Ibu, Aku rindu candamu.. Aku rindu senyummu. Kenapa kau tak kunjung datang Ibu? Aku Sendirian disini Ibu... Aku ingin bertemu Ibu .. Dimana IBU ?

Aku sedih bila tanganmu tak membelai wajahku..

Hari Ketiga

Ibu, Kenapa aku dijaga oleh orang lain ibu ? Aku tak nyaman disini Ibu. Aku ingin dipeluk olehmu Ibu. Aku masih sangat Butuh curahan kasih sayangmu ibu. Kenapa kau tak ada di sampingku ? Aku tak mau kau pergi Ibu ..

Aku berteriak. Nafasku putus putus. Kakiku menendang. Aku memberontak. Penyakit dalam diriku mulai kambuh.

Hari Keempat

Aku sudah bosan Ibu. Aku Ingin kau kembali. Sebenarnya dimana limpahan kasih sayangmu dulu? Aku Rindu Pelukmu Ibu ..

Ibu, Tahukah Kau ? aku rindu saat kau menggendongku. aku menggelayut manja serta tertawa riang di pelukanmu. Tapi kini sirna sudah. Tanganku tak sanggup menggapaimu lagi, Ibu. Dimanakah kau berada ibu ?

Aku berteriak kesakitan. Sepertinya malaikatku sudah datang. Tapi aku ingin melambaikan tanganku terlebih dahulu padamu. Ibu. Nampak Pemilikku sudah siap menerimaku kembali. Pertanyaanku hanya satu padamu, Ibu ..

Kenapa dulu Kau tidak menerimaku, Ibu ?


#Inspirasi dari berita sebuah channel TV mengenai bayi hidrochepalus yang dibuang ibunya di masjid

Rabu, 13 Oktober 2010

Dia dan Gitar Lamaku (Part IV)

---------- Agni side---------------

                        kakiku pegal. ya. kakiku linu. catat.sekarang aku berada di dalam bus kota. pengap. capai. lelah. aku menoleh. aiish adik laki laki itu sedang mencoba mencopet dompet seorang nenek. aku mendengus. Ya Tuhan. seharusnya aku mencegahnya. oh tidak. harus sekarang. tanganku menepis sekaligus menepuk pundak nenek yang terlihat lelah itu. ah sungguh malang kau dik. pasti kau lapar ya? batinku. sampai sampai harus melakukan hal seperti ini. tampaknya anak itu berang. aku bersiap siap untuk mengelak. tapi lagi lagi aku ditolong. Terimakasih Tuhan. Tangan siapakah itu?



              tangan cowok itu. yang selalu kudapati melengos padaku di kuliah semester pertamaku dulu.ya, aku ingat dia. senior yang menduduki jabatan paling garang tapi ganteng. aku yakin dia adalah salah satu mahasiswa senior yang mendapat beasiswa pelajar. aku juga sering melihat wajah dia di mading kampus. tapi hanya sepintas. karenanya aku ingin menegurnya, dengan alasan sepele! gitar yang dibawanya unik. kenapa unik? batiknya itu, unique and different.


                    dia menegur bocah cilik pencopet itu. aku langsung tanggap dan memberi pengertian nenek. nampaknya sang nenek kasihan dengan bocah cilik itu. walaupun sempat terlihat kesal, sang nenek langsung merogoh sakunya dan memberi uang kertas beberapa lembar. serta merta bocah cilik itu malu. dan tentunya senior cowok itu menyuruh bocah cilik itu meminta maaf. baru kali ini pengalamanku melihat calon korban pencopetan mengajak ngobrol dan berkenalan pada pelaku pencopetan. terkadang dunia terasa tak adil, tapi jika orang orang di dunia masih berkasih sayang pasti terasa berbeda. seperti hari ini. 


              cowok itu kembali ke rutinitasnya. setelah tersenyum tipis pada nenek dan aku, ia terpaku kembali ke depan. untung bocah itu tidak digebuki orang di dalam bus. Alhamdulilah. aku mengernyit.ini kesempatanku untuk menyapanya. harus!


-bersambung-

Selasa, 12 Oktober 2010

Dia dan Gitar Lamaku (Part III)

Hidupku memang berantakan. tapi pikiranku tak seberantakan itu. Aku celingukan mencari keberadaan Kimo. aku tidak marah padanya. mungkin emaknya atau adiknya sedang kesulitan. jadi ia terpaksa melakukan perbuatan tadi. sungguh anak yang malang.


Kimo terlihat pasrah ketika aku menemukannya. aku hanya tersenyum. "sudah kau jual gitar itu, mo?" yang terdengar hanya sahutan bang jipang, "sudah ke gue nih. duitnya gue kasihin loe langsung aje ye!" bang jipang menyodori aku sejumlah uang. aku menggeleng. "bang, ane nggak jadi jual. maaf ya bang." raut wajah bang jipang mengerut. lalu beralih menghardik si Kimo. "ah pasti ini akal akalan lo ya mo! kasihan tuh mas kiki, gitar satu satunye malah lo sabet. dasar kriminil cilik!" aku menghela. resiko kimo. aku tidak bisa membelanya karena itu adalah kenyataan yang sebenarnya. dunia memang terkadang tidak adil.


"mo, lu butuh duit berapa sih? buat apa lagi pake kayak ginian? ngomong kan bisa."
"tapi bang, ini ...."
"mendesak?" jiwaku trenyuh melihat muka kimo yang memelas.
"gini lo bang...."
akhirnya kimo menceritakan asal mula ia ingin menjual gitarku. ternyata dia ingin membayari biaya puskemas untuk kesehatan ibunya sehabis melahirkan. pendarahan yang hebat telah mendera ibunya beberapa hari ini. aku terdiam. "lu punya askes nggak mo?"
"askes itu apa sih bang? mahal nggak sih?"
aku meringis. anak jaman sekarang apalagi tipe kimo memang belum berfikir panjang. sampai kapan generasi penerus di Indonesia seperti ini? batinku.


--------------......---------------



andai saja aku masih kuliah. andai saja kesempatan masih ada. yah takdir pasti mengantar kepada hal yang seharusnya. cukup kusyukuri itu.




Ditengah kemelut pikiranku menjadi satu, aku memilih untuk pulang ke bilikku. kubawa buku pemberian Agni. kubuka lembarannya satu persatu. karya yang sangat menusuk. mendalam. bahasa yang berat. tapi cukup bisa dimengerti. kebanyakan bertopik tentang kecewa. penyesalan akan waktu. dan Generasi Indonesia. aku salut padanya. Tidak salah penilaianku yang pertama saat mataku melihat Agni menolong nenek yang akan menjadi korban pencopetan. tangannya sigap menahan pelaku. beruntung aku ada disebelahnya. dan pencopet itu sendiri adalah kawan cilikku yang kemarin kehilangan ibu kandung kesayangannya. Kimo.


-Bersambung-


Senin, 11 Oktober 2010

Dia dan Gitar Lamaku (Part II)

Kubuka buku itu dengan seksama. Judulnya terlihat berat dan sendu. "Menggapai Bintang tak semudah mengedipkan mata." aku menghela. kumpulan karya sastra dari seorang gadis yang belum kukenal tetapi terasa dekat karena aku mengangguminya. mungkin bisa dibilang "menyukainya". Andaikan gadis itu masih bersamaku di dalam bus ini, aku akan lebih aktif mengajaknya mengobrol. karena hal itu adalah kesempatan satu kali dalam seribu pertemuan di terminal.
Aku membuka lembaran terakhirnya yang bertuliskan, "Every second I breath you saw all about me. " dadaku berdegup. mataku kembali melihat nama pengarang yang tercetak jelas di cover depan. Agni Divawidyasari. Gadis berambut burgundy yang tidak segan naik bus walaupun aku tahu dia pasti bisa naik kendaraan selain bis.
Aku menoleh ketika namaku disebut. keras. "Edoooo!" mataku mencari. Gitarku masih disebelahku. tenang dan diam. "Ada Apa?" sahutku acuh. ternyata Kimo temanku, salah satu pengamen jalanan di daerah terminal. "Lo tau nggak? cewek yang sering lo liatin, ketabrak coy!"
Shock. Yang jelas aku kaget. "Masa sih mo?" wajah kimo masih tetap tegang. aku langsung berlari setelah menanyakan tempat kejadian. gitarku kutitipkan pada kimo. tapi kenyataannya, tidak ada kecelakaan satu pun di daerah Sukasari. Ada Apa ini ?
Sekembalinya aku ke tempat kimo dan gitarku, keduanya tidak ada di tempat. Bahuku ditepuk seseorang, "Gitar lo, kok dijual sama ane sih?" ternyata Faisol. "Nggak gue jual, si Kimo tuh!Gila tuh anak, tu gitar kesayangan gue!" Faisol menggumam. "Lu juga sih tahu si Kimo itu kriminil, percaya aje." aku menghentakkan kaki. "Ane kira, dia nggak akan temen makan temen." Faisol malah tertawa.


-Bersambung-

Dia dan Gitar Lamaku

Matanya mengerjap. Mungkin gadis cantik itu akan segera pergi. Tampaknya betul. Kakinya yang jenjang tengah berlari di kerumunan manusia yang berada di terminal Sukasari.


Gadis cantik berambut burgundy. Aku selalu memandanginya setiap pagi. Gitar Tuaku masih setia menemaniku untuk mencari nafkah bersama teman teman seperjuanganku. Tak lupa kucari gadis itu tiap hari. Hanya untuk menambah semangat diri. Tak ayal mataku sempat bersirobok dengan mata jernih itu. Sayangnya, reflek aku segera berpaling karena aku malu. Aku tahu betapa berbedanya aku dengan dirinya.

"Gitar Lama ya?" nada yang meluncur terdengar santai. aku kaget. Penasaran aku spontan menoleh dengan cepat. kujawab dengan singkat, "Ya, sudah sejak dulu sepertinya." Gadis Cantik yang setiap pagi ku cari, sekarang malah menegurku terlebih dahulu! " Hmm, gue mau dengerin satu lagu dong. Bayar pake ini mau enggak?" Gadis itu malah menyodorkan buku plus permen karamel. Wajahnya yang mempesona mengeluarkan seribu kali lipat kecantikannya. aku tersenyum. lebih tepatnya menyeringai lebar. "Gratis." Tanganku mulai beraksi. Lagu Gubahan Greenday Kesukaanku sejak aku berhenti kuliah kunyanyikan dengan lancar. Aku lega melihat senyumnya mengembang. "Lagu Kesukaan kita setipe nih. Thanks Terhibur banget lho! Ini deh gue kasih gratis!" Dia masih tetap ngotot menyodorkan Buku dan Permen Karamel. sempat dia berbisik di telingaku sebelum keluar bus. "Buku Buatan Gue sendiri Lhoo!" dia tersenyum jahil dan melambaikan tangannya ketika hendak memasuki gedung. Aku terpaku. Hari ini sangat menyenangkan.


- Bersambung-